Translate

Selasa, 01 Oktober 2013

Hati-hati dengan Lisan

Saudaraku, seringkali lisan ini
tergelincir mengucapkan kata-kata
kotor, mencela orang lain,
membicarakan orang lain padahal
dia tidak senang untuk diceritakan,
bahkan seringkali lisan ini
mengucapkan kata-kata yang
mengandung kesyirikan dan
kekufuran.

Harusnyasetiap muslim
mengoreksi diri dalam setiap
tingkah lakunya, apalagi dalam
perkara lisannya, yang begitu
enteng mengucapkan sesuatu
karena keluar dari lidah yang tak
bertulang.

Ingatlah saudaraku, setiap yang
kita ucapkan, mencakup perkataan
yang baik, yang buruk juga yang
sia-sia akan selalu dicatat oleh
malaikat yang setiap saat
mengawasi kita. Seharusnya kita
selalu merenungkan ayat berikut
agar tidak serampangan
mengeluarkan kata-kata dari lisan
ini. Allah Ta’ala berfirman (yang
artinya), ”Tiada suatu ucapanpun
yang diucapkannya melainkan ada
di dekatnya malaikat pengawas
yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50] :
18).

Ucapan dalam ayat ini bersifat
umum. Oleh karena itu, bukan
perkataan yang baik dan buruk
saja yang akan dicatat oleh
malaikat, tetapi termasuk juga
kata-kata yang tidak bermanfaat
atau sia-sia. (Lihat Tafsir Syaikh
Ibnu Utsaimin pada Surat Qaaf)

Kita dapat melihat contoh ulama
yang selalu menjaga lisannya
bahkan sampai dalam keadaan
sakit. Imam Ahmad pernah
didatangi oleh seseorang dan
beliau dalam keadaan sakit.
Kemudian beliau merintih karena
sakit yang dideritanya. Lalu ada
yang berkata kepadanya (yaitu
Thowus, seorang tabi’in yang
terkenal), “Sesungguhnya rintihan
sakit juga dicatat (oleh malaikat).”
Setelah mendengar nasehat itu,
Imam Ahmad langsung diam, tidak
merintih. Beliau takut jika merintih
sakit, rintihannya tersebut akan
dicatat oleh malaikat. (Silsilah
Liqo’at Al Bab Al Maftuh, 11/5)
Lihatlah saudaraku, bentuk rintihan
seperti ini saja dicatat oleh
malaikat, apalagi ketergelinciran
lisan yang lebih dari itu.

Ibnu Mas‘ud mengatakan, "Tidak
ada yang lebih pantas dipenjara
dalam waktu yang lama melainkan
lisanku ini." (Mukhtashor Minhajil
Qoshidin, hal. 165, Maktabah Darul
Bayan)

Di Antara Ketergilincaran Lisan ;

[Pertama] Mencela Makhluk yang
Tidak Dapat Berbuat Apa-apa

Misalnya dengan mengatakan,
‘Bencana ini bisa terjadi karena
bulan ini adalah bulan Suro’ atau
mengatakan ‘Sialan! Gara-gara
angin ribut ini, kita gagal panen’
atau dengan mengatakan pula,
‘Aduh!! hujan lagi, hujan lagi’.
Lidah ini begitu mudah
mengucapkan perkataan seperti ini.

Padahal makhluk yang kita cela
tersebut tidak mampu berbuat apa-
apa kecuali atas kehendak Allah.
Mencaci waktu, angin, dan hujan,
pada dasarnya telah mencaci,
mengganggu dan menyakiti yang
telah menciptakan dan mengatur
mereka yaitu Allah Ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Allah Ta‘ala berfirman,
‘Manusia menyakiti Aku; dia
mencaci maki masa (waktu),
padahal Aku adalah pemilik dan
pengatur masa. Aku-lah yang
mengatur malam dan siang
menjadi silih berganti’.” (HR.
Bukhari dan Muslim).

Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam juga
bersabda,”Janganlah kamu
mencaci maki angin.” (HR.
Tirmidzi, beliau mengatakan hasan
shohih)

[Kedua] Seringnya Berdusta

Hal ini juga sering dilakukan oleh
kita saat ini. Dalam mu’amalah
saja seringkali seperti itu. Hanya
ingin mendapat untung yang besar,
seorang tukang bangunan rela
berdusta. Harga semennya
sebenarnya 30 ribu, namun tukang
tersebut mengatakan pada
juragannya bahwa harganya 40
ribu.

Begitu juga dalam mendidik anak,
seringkali juga muncul perkataan
dusta. Ketika seorang anak
merengek, menangis terus-terusan.
Untuk mendiamkannya, sang Ibu
spontan mengatakan, “Iya, iya,
nanti Mama akan belikan coklat di
warung. Sekarang jangan nangis
lagi.” Setelah anaknya diam,
ibunya malah tidak memberikan
dia apa-apa. Kelakuan ibu ini juga
secara tidak langsung telah
mengajarkan anaknya untuk
berdusta. Jadi jangan salahkan
anaknya, jika dewasa nanti,
anaknya malah yang sering
membohongi orang tuanya.

Saudaraku, bentuk pertama dan
kedua ini sama-sama berkata
dusta. Ingatlah bahwa perbuatan
semacam ini termasuk ciri-ciri
kemunafikan. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Tanda orang munafik
itu ada tiga : jika berkata, dia
dusta; jika berjanji, dia
menyelisinya; dan jika diberi
amanat, dia berkhianat.” (HR.
Bukhari dan Muslim)

Inilah di
antara dua bentuk ketergelinciran
lisan dan masih banyak sekali
bentuk yang lainnya.

Berpikirlah Sebelum Berucap

Hendaklah seseorang berpikir dulu
sebelum berbicara. Siapa tahu
karena lisannya, dia akan dilempar
ke neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya ada seorang
hamba yang berbicara dengan
suatu perkataan yang tidak
dipikirkan bahayanya terlebih
dahulu, sehingga membuatnya
dilempar ke neraka dengan jarak
yang lebih jauh dari pada jarak
antara timur dan barat.” (HR.
Muslim)

Ulama besar Syafi’iyyah, An
Nawawi rahimahullah dalam Syarh Muslim tatkala menjelaskan hadits ini mengatakan, ”Ini merupakan dalil yang mendorong setiap orang agar selalu menjaga lisannya sebagaimana Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam juga
bersabda, ‘Barangsiapa beriman
kepada Allah dan hari akhir, maka
berkatalah yang baik dan jika tidak
maka diamlah.’ (HR. Bukhari dan
Muslim).

Oleh karena itu,
selayaknya setiap orang yang
berbicara dengan suatu perkataan
atau kalimat, hendaknya
merenungkan dalam dirinya
sebelum berucap. Jika memang
ada manfaatnya, maka dia baru
berbicara. Namun jika tidak,
hendaklah dia menahan lisannya.”
Itulah manusia, dia menganggap
perkataannya seperti itu tidak apa-
apa, namun di sisi Allah itu adalah
suatu perkara yang bukan sepele.
Allah Ta’ala berfirman, “Kamu
menganggapnya suatu yang ringan
saja. Padahal dia pada sisi Allah
adalah besar.” (QS. An Nur [24] :
15)

Dalam Tafsir Al Jalalain dikatakan
bahwa orang-orang biasa
menganggap perkara ini ringan.
Namun, di sisi Allah perkara ini
dosanya amatlah besar. Dengan
Lisan, Seseorang Bisa Ditinggikan
Derajatnya
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Sesungguhnya ada
seorang hamba berbicara dengan
suatu perkataan yang tidak dia
pikirkan lalu Allah mengangkat
derajatnya disebabkan
perkataannya itu.” (HR. Bukhari)

Ketinggian derajat di sini bisa
diperoleh jika lisan selalu
diarahkan pada perkara kebaikan,
di antaranya dengan berdo’a,
membaca Al Qur’an, berdakwah di
jalan Allah, mengajarkan orang lain
di majelis ilmu dan lain
sebagainya. Atau dengan kata lain,
ketinggian derajat tersebut bisa
diperoleh dengan mengarahkan
lisan pada perkara-perkara yang
Allah ridhoi. (Lihat Nashihatu
Linnisa’, hal. 20)

Semoga kita dimudahkan oleh
Allah untuk menjaga lisan ini dan
mengarahkannya kepada hal-hal
yang dirihoi oleh Allah. Amin Ya
Mujibad Da’awat.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi
tatimmush sholihat.

Sumber : rumaysho.com

Semoga Bermanfaat ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar